Aku & Skoliosis
Selamat malam, internet 🙋
Hari ini hari pertama aku renang setelah hari itu. Hari itu adalah hari terakhir kali aku renang sebelum hari ini. Yaa gitulah ya..
Beberapa waktu lalu aku bikin surat keterangan sehat di RSUD kabupaten tempat aku tinggal. Aku dateng ke poli RS bagian adm untuk mendaftar. Setelah itu aku dikasih beberapa kertas dan disuruh ke kasir. Sampai kasir ada sejumlah uang yg aku bayar, dan aku dapet banyak kertas. Mba kasir itu menjelaskan ke aku, "Yang ini ke poli mata, ini ke ugd, ini ke lab, ini ke radiologi, trus ini terakhir ya mba ke rekam medik". Aku cuma mengangguk dan bilang makasih.
Setelah dari poli mata-ugd-lab-radiologi, semua hasilnya baik dan aku dinyatakan sehat. Yeay, alhamdulillah kesehatanku diakui. Hehe..
Tapi ada yg janggal saat aku mengambil hasil foto thorax di ruang radiologi. Petugas di sana menanyakan apakah tadi posisi badanku sudah tegap pada saat pemeriksaan dan apakah aku skoliosis. Aku bingung. Tp karena aku merasa berdiri tegap saat pemeriksaan ya aku jawab tegap, nah selanjutnya: skoliosis? Aku juga nggak tau.
Sampai di rumah, aku buka hasil foto thorax itu. Dan ternyata tulang belakangku melengkung ke kanan. Aku ga tau sejak kapan, yg pasti memang aku sering ngalami nyeri punggung. Karena penasaran, aku kembali menyambangi RS yg sama dg tujuan poli orthopedi (bedah tulang).
Saat aku dipanggil, aku menceritakan sebab musabab aku bertandang ke sana. Aku jg menceritakan sejarahku yg sempat merasakan asiknya jatuh dari motor. Juga tak lupa menunjukan hasil foto thorax itu. Dokter langsung bilang, "Aaaaa, ini kamu skoliosis nih. Coba rukuk, pasti ga datar".
Aku rukuk. Dan benar.. kakak perawat yg bertugas di sana menunjuk punggung sebelah kanan atas yg lebih tinggi dari yg kiri. "Umur 23th.. udah telat nih. Ga bisa lg pake korset penyangga. Kalo tau nya pas masih masa pertumbuhan masih bisa dibagusin. Kalo sekarang.... kamu rajin berenang aja ya. 6 bln lagi kontrol ya. Rontgen. Kita liat progesifitasnya. Kalo nambah melengkung saya sarankan operasi", jelas dokter.
Dan sejak itu aku resmi jd skolioser. Tidak ada garis keturunan dlm keluargaku yg memiliki kelainan tulang belakang sepertiku. Sejak lama aku memperhatikan perbedaan di punggungku ketika aku melihat badanku dari arah samping. Bagian kanan terlihat lebih "memunuk". Sering nyeri. Mudah capek. Susah gemuk. Bahu tinggi sebelah. Dan hari itu aku dapatkan jawabannya. Ternyata itu ulah tulang belakang. 🙇
Banyak faktor sih memang kenapa seseorang bisa hidup dg skoliosis. Nah salah satunya dan yg mungkin terjadi sm aku adalah posisi tidur yg salah. Terutama pd masa pertumbuhan.
Nah buat ibu-ibu dan calon ibu.. penting deh ya kita memperhatikan dan mengajarkan cara tidur yg baik kpd buah hati kita sejak dini. Supaya kejadian seperti aku ga keulang...
Btw buat semua skolioser.. semangat ya! 😆
Hari ini hari pertama aku renang setelah hari itu. Hari itu adalah hari terakhir kali aku renang sebelum hari ini. Yaa gitulah ya..
Beberapa waktu lalu aku bikin surat keterangan sehat di RSUD kabupaten tempat aku tinggal. Aku dateng ke poli RS bagian adm untuk mendaftar. Setelah itu aku dikasih beberapa kertas dan disuruh ke kasir. Sampai kasir ada sejumlah uang yg aku bayar, dan aku dapet banyak kertas. Mba kasir itu menjelaskan ke aku, "Yang ini ke poli mata, ini ke ugd, ini ke lab, ini ke radiologi, trus ini terakhir ya mba ke rekam medik". Aku cuma mengangguk dan bilang makasih.
Setelah dari poli mata-ugd-lab-radiologi, semua hasilnya baik dan aku dinyatakan sehat. Yeay, alhamdulillah kesehatanku diakui. Hehe..
Tapi ada yg janggal saat aku mengambil hasil foto thorax di ruang radiologi. Petugas di sana menanyakan apakah tadi posisi badanku sudah tegap pada saat pemeriksaan dan apakah aku skoliosis. Aku bingung. Tp karena aku merasa berdiri tegap saat pemeriksaan ya aku jawab tegap, nah selanjutnya: skoliosis? Aku juga nggak tau.
Sampai di rumah, aku buka hasil foto thorax itu. Dan ternyata tulang belakangku melengkung ke kanan. Aku ga tau sejak kapan, yg pasti memang aku sering ngalami nyeri punggung. Karena penasaran, aku kembali menyambangi RS yg sama dg tujuan poli orthopedi (bedah tulang).
Saat aku dipanggil, aku menceritakan sebab musabab aku bertandang ke sana. Aku jg menceritakan sejarahku yg sempat merasakan asiknya jatuh dari motor. Juga tak lupa menunjukan hasil foto thorax itu. Dokter langsung bilang, "Aaaaa, ini kamu skoliosis nih. Coba rukuk, pasti ga datar".
Aku rukuk. Dan benar.. kakak perawat yg bertugas di sana menunjuk punggung sebelah kanan atas yg lebih tinggi dari yg kiri. "Umur 23th.. udah telat nih. Ga bisa lg pake korset penyangga. Kalo tau nya pas masih masa pertumbuhan masih bisa dibagusin. Kalo sekarang.... kamu rajin berenang aja ya. 6 bln lagi kontrol ya. Rontgen. Kita liat progesifitasnya. Kalo nambah melengkung saya sarankan operasi", jelas dokter.
Dan sejak itu aku resmi jd skolioser. Tidak ada garis keturunan dlm keluargaku yg memiliki kelainan tulang belakang sepertiku. Sejak lama aku memperhatikan perbedaan di punggungku ketika aku melihat badanku dari arah samping. Bagian kanan terlihat lebih "memunuk". Sering nyeri. Mudah capek. Susah gemuk. Bahu tinggi sebelah. Dan hari itu aku dapatkan jawabannya. Ternyata itu ulah tulang belakang. 🙇
Banyak faktor sih memang kenapa seseorang bisa hidup dg skoliosis. Nah salah satunya dan yg mungkin terjadi sm aku adalah posisi tidur yg salah. Terutama pd masa pertumbuhan.
Nah buat ibu-ibu dan calon ibu.. penting deh ya kita memperhatikan dan mengajarkan cara tidur yg baik kpd buah hati kita sejak dini. Supaya kejadian seperti aku ga keulang...
Btw buat semua skolioser.. semangat ya! 😆
Komentar
Posting Komentar